Thalut, Daud, dan Sulaiman: Transformasi Kepemimpinan Sesuai Tantangan Zaman (bag.III) by Sapto Waluyo


Transformasi kepemimpinan bangsa Israel digenapi dengan tampilnya Sulaiman yang tak cuma menguasai teknologi peleburan besi, dan akhirnya disempurnakan dengan peleburan tembaga, melainkan juga mengelola energi angin yang diubah menjadi transportasi udara. Fakta kecanggihan peradaban kuno ini terasa aneh di telinga, tapi kitab suci menceritakannya dengan terang benderang: “Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman , yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu petang sama dengan perjalanan sebulan …” (surat Saba, ayat 12). Boleh jadi pada waktu itu ada spesies burung yang sangat besar dan dapat dijinakkan, lalu difungsikan sebagai transportasi udara, sehingga lebih cepat terbangnya ketimbang berjalan kaki atau naik unta. Penemuan bidang arkeologi suatu hari kelak dapat menjawab misteri kemajuan teknologi Sulaiman.

Tidak hanya mengoptimalkan energi angin (natural resources), Sulaiman juga mengeksplorasi sumberdaya makhluk di sekitarnya, antara lain burung-burung (sarana komunikasi dan informasi), jin (energi untuk menggerakkan peralatan berat), dan manusia (kecerdasan dan kreativitas budaya). Sekali lagi, imaji kita tentang kemajuan peradaban Sulaiman masih sangat terbatas, tetapi kitab suci telah menegaskannya jauh hari sebelum ditemukan energi listrik (Michael Farraday dan Thomas Alva Edison), mesin uap (James Watt), pesawat terbang (Wright bersaudara), dan teknologi informasi (Bob Kahn dan Roy Tomlinson): “Sulaiman telah mewarisi (keagungan kerajaan/peradaban) Daud, dan dia berkata: ‘Wahai manusia, kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh semua itu benar-benar karunia yang nyata.’Dan, untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari golongan jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib.” (surat an-Naml, ayat 16-17).

Keagungan Sulaiman tidak membuahkan kesombongan, bahkan ia dikenal sangat peduli dengan pelestarian lingkungan, yang di masa modern merupakan fondasi pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Suatu fakta sekaligus metafora tentang kepedulian Sulaiman terhadap pemeliharaan lingkungan terlihat dari kebijakannya untuk melindungi “hak komunitas semut” agar hidup aman dan nyaman di sarangnya, serta tidak terganggu dengan defile pasukan yang sedang menginspeksi wilayah. Seorang penguasa yang sanggup mengakomodasi aspirasi seekor semut tentu tidak akan pernah terpikir untuk melakukan pelanggaran HAM berat atau merusak lingkungan demi kepentingan pribadinya. Puncak keagungan Sulaiman ditandai dengan sikapnya untuk selalu bersyukur kepada Allah (high spirituality) dan berbuat kebajikan bagi semua makhluk (altruism), seperti terukir dalam doa abadi:

“Ya Tuhanku, karuniakanlah aku inisiatif untuk selalu bersyukur kepada-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku melakukan kebajikan yang Engkau ridlai. Masukkanlah aku, dengan rahmat-Mu, ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih…” (surat an-Naml, ayat 19). Prinsip bersyukur dan memanfaatkan fasilitas hidup untuk beribadah telah menjadi norma keluarga besar Daud dan Sulaiman. “Bekerjalah, wahai kelurga Daud, untuk bersyukur kepada Allah. Dan, sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang bersyukur…” (surat Saba, ayat 13). Profesionalisme dan produktivitas tinggi diiringi dengan pemantapan spiritual akan menimbulkan ketenangan hidup (sakinah), sehingga dapat menghindarkan kita dari berbagai tekanan (stress), gejala kecemasan (anxiety) dan keterasingan (alienation) akibat persaingan dan perebutan posisi.

Dalam ungkapan Danah Zohar dan Ian Marshall, “modal spiritual adalah sumber kekayaan (wealth) yang membuat kita bisa bertahan hidup, karena menyentuh aspek paling mendasar dalam hidup manusia” (2004). Tentu saja itu diimbangi dengan pemupukan modal material (bersumber dari kecerdasan rasional/IQ) dan modal sosial (kecerdasan emosional/EQ). Dengan IQ kita mampu berpikir (What I think), dengan EQ kita menjadi peka (What I feel), dengan SQ kita menyadari siapa diri kita dan akan kemana kita kembali (Who I am). Dalam dunia yang serba kompleks, bahkan cenderung chaotic, keterpaduan dan keseimbangan IQ/EQ/SQ menjadi pegangan.

Lihat sekitar kita, satu dasawarsa sejak reformasi digulirkan (1998-2008), ternyata bangsa ini belum banyak berubah. Penyelewengan kekuasaan masih terjadi (tertangkapnya anggota DPR dan jaksa pengusut BLBI), kekerasan bernuansa agama terus berlangsung (ekses pelarangan Ahmadiyah), sementara tekanan global tak kunjung surut (kenaikan harga minyak dan komoditas pangan). Di Makassar kita dengar ada ibu hamil (Daeng Basse) yang meninggal akibat kelaparan akut; di Karangasem, Bali ada siswa SD kelas tiga (Nyoman Sudiksa) yang menggantung diri karena frustasi tak diberi uang jajan sebesar Rp 2.000 oleh orangtuanya yang hanya pedagang kecil; di Bekasi ada ibu muda (Ny. Ismawati) yang depresi berat karena tidak diberi nafkah lahir-batin oleh suaminya, lantas membunuh dua anaknya yang berusia 1,5 tahun dan 5 bulan.

Betapa kompleks persoalan bangsa ini. Hanya pemimpin yang cerdas, berani (mengambil resiko), dan peka (terhadap penderitaan rakyat) dapat menyelesaikannya. Sementara itu, di tengah impitan beban, kita masih mendengar sejumlah harapan: siswa Indonesia menjadi runner-up Olimpiade Fisika 2008 di Mongolia dengan mengantongi 3 medali emas (nomor satu adalah Cina); dua tim dari Institut Teknologi Bandung yang mewakili Indonesia dan zona 8 (Asia Tenggara dan Selatan) telah meraih juara 3 besar dalam ajang kompetisi bisnis tingkat dunia ‘L’Oreal e-Strat Challenge’ di Paris (kompetisi di bulan April 2008 itu diikuti 15.000 tim dari 128 negara); dan fenomena “Ayat-ayat Cinta” yang bukunya terjual 450.000 kopi, sedang filmya ditonton nyaris 4 juta orang. Potensi-potensi positif inilah yang harus terus dipompa, agar kecenderungan negatif-destruktif dari sebagian komponen bangsa ini dapat dicegah. Karena itu, peran kepemimpinan menjadi relevan dan niscaya.

Tipologi Kepemimpinan

Dari telaah singkat di atas, kita menyadari kriteria kepemimpinan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Memang ada kriteria dasar yang relatif tetap (the essence of leadership), namun tuntutan zaman akan menentukan kriteria mana yang paling menonjol dan seperti apa dosis yang pas. Proses Musda atau Munas (dalam organisasi semisal HIPMI) adalah wahana yang tepat untuk menggodok dan menyeleksi figur yang relevan dengan kehendak zaman. Jangan sampai peserta Musda/Munas terpenjara dengan penilaian pribadi dan kelompok kecil (groupthink), sehingga melupakan persoalan bangsa dan dinamika global yang harus direspon oleh figur yang andal. Kesalahan kita dalam memilih pemimpin akan meledakkan persoalan yang lebih besar, bukan menyelesaikannya.

Sosok Thalut, Daud dan Sulaiman menjelaskan tipologi kepemimpinan yang khas bertransformasi dari waktu ke waktu. Thalut adalah tipe pemimpin “pembebas” (mendobrak dan memutus belenggu penjajahan), Daud adalah pemimpin “pemersatu” (mengkonsolidasikan kerajaan dan wilayah yang terpecah-belah), dan Sulaiman tipe pemimpin “pemakmur” (mengembangkan sumberdaya material dan spiritual). Masing-masing tipe kepemimpinan itu tampil sesuai tantangan zamannya melalui proses suksesi yang damai. Tugas kita di masa kini untuk mengenali potensi diri sendiri dan menyemai benih kepemimpinan di lingkungan masing-masing.

Nabi sejati pada puncak kinerjanya benar-benar berkuasa (powerful), sungguh mampu mengendalikan perilaku dan perikeadaan masyarakat dan lingkungannya. Seorang Nabi sejati (the true Prophet) bukan seorang moralis (resi) yang bisa dilecehkan segenap petuah dan fatwanya, karena kekuatan spiritual (dari sabda dan tindakannya) telah didukung oleh kekuatan fisikal dan material (David capabilities), bahkan dilengkapi dengan kemampuan manajerial dan komunikasi lintas dunia (Solomon capabilities).

Demikian pula, seorang Raja pada puncak kinerjanya benar-benar arif bijaksana (wise), sungguh mampu menangkap dan mengungkap makna tersembunyi di balik segenap perilaku manusia atau fenomena alam semesta. Seorang Raja sejati (the true King) bukan seorang tiran yang ditakuti keangkeran dan kekejamannya, tetapi dipatuhi karena keadilan dan kasih sayangnya kepada rakyat paling jelata. Kekuatan fisik dan kekayaan materi sang Raja disempurnakan dengan kecerdasan seorang filosof, kehalusan budi seorang seniman, dan ketawaduan seorang sufi.

Saatnya kita tumbuh-suburkan kualitas kepemimpinan yang sejati dalam diri, organisasi, dan bangsa ini. Agar bangsa ini selamat dari kehancuran.

Sapto Waluyo
HIPMI Excellencia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: