Thalut, Daud, dan Sulaiman: Transformasi Kepemimpinan Sesuai Tantangan Zaman (bag.II) by Sapto Waluyo


Transformasi Kepemimpinan

Tampilnya Daud dan Sulaiman didahului proses transformasi sosial yang jarang didiskusikan, padahal sebenarnya menyajikan latar belakang sejarah yang amat relevan untuk menetapkan kriteria kepemimpinan yang sesuai konteks zaman. Untuk mengkaji hal ini, rujukan dari Bibel (The Old and New Testament) sangat diperlukan (bisa dirujuk Kitab Samuel), namun penulis memakai rujukan utama dari al-Qur’an. Dalam surat al-Baqarah (ayat 246-252) diuraikan prolog kemunculan Daud. Saat itu, Bani Israel dipimpin oleh seorang Nabi bernama Samuel yang hidup sekitar 11 abad sebelum kelahiran Isa (Jesus).

Posisi Bani Israel kembali terbelenggu penindasan, karena sepeninggal Musa tak hadir pemimpin yang kuat (strong leadership) dan mental kaum Yahudi didominasi sikap saling bermusuhan (divided and conflicting each other). Dalam kondisi yang tertekan itu, sekelompok elite (al-Mala’) dari kalangan Bani Israel mendatangi Samuel dan menuntut: “Angkatlah seorang pemimpin (al-Malik) untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah.” Samuel merespon tuntutan elite kaum itu dengan nada menyindir:
“Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, maka kamu tidak akan berangkat berperang.” Samuel paham betul watak Bani Israel, apalagi elite politisinya, yang suka melarikan diri dari tanggung-jawab kolektif. Dalam istilah Jawa sikap pengecut (cowardice) disebut dengan “tinggal glanggang colong playu” (meninggalkan medan tempur untuk mencari selamat sendiri).

Elite Bani Israel tetap ngotot dan meyakinkan Samuel bahwa mereka pasti siap berjuang dengan alibi mereka telah diusir dari kampung halaman dan dipisahkan dari anak-isteri. Tapi, ternyata segera terbukti bahwa tuntutan perjuangan itu dilandasi kepentingan tersembunyi, karena mereka menyimpan ambisi kekuasaan tersendiri. Bila mereka benar-benar tulus hendak berjuang, maka tuntutan awal mestinya semisal: “Wahai Samuel, pimpinlah kami untuk berjuang bersamamu melawan penjajah”, karena tugas seorang Nabi – seperti dicontohkan Musa – termasuk melawan segala bentuk kezaliman. Mereka menuntut Samuel agar menunjuk seorang “pemimpin baru” dari kalangan Bani Israel, yang bermakna dari “kelompok elite” itu sendiri. Mereka gunakan bahasa diplomatik, namun Samuel mengetahui motif politik elite yang sebenarnya.

Tuntutan itu sebenarnya telah mendegradasikan tugas seorang Nabi yang selama ini menjadi keyakinan relijius Bani Israel bahwa “pemimpin spiritual” (Nabi) tak bisa dilepaskan dari “pemimpin militer” (komandan perang) sebagai warisan sejarah Musa. Sekularisari – jika istilah ini dapat dipakai – atau parsialisasi tugas kepemimpinan (leadership obligations) mengawali krisis sosial yang dialami Bani Israel selama beberapa abad.

Untuk mengembalikan spirit kepemimpinan yang transendental, dan atas petunjuk Ilahi, akhirnya Samuel menyatakan: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut (Saul) sebagai pemimpin kalian.” Semua orang terperanjat. Nama Thalut benar-benar tak dikenal di kalangan elite Bani Israel. Ia warga kampung yang berasal dari garis keturunan Benyamin, suku minoritas di Israel. Para elite yang serba menuntut itupun protes keras: “Bagaimana Thalut bisa memimpin kami, sedangkan kami lebih berhak (secara tradisi) atas kekuasaan itu, dan dia tidak memiliki kekayaan yang banyak (untuk membiayai kekuasaan yang akan dijalankan).” Jawaban yang sudah diduga Samuel sebelumnya, dan langsung dibantah: “Allah telah memilihnya menjadi pemimpin kalian dan memberikan kelebihan ilmu (strategi perang) dan (kekuatan) fisik”.

Inilah tiga kriteria minimal seorang pemimpin di masa perjuangan melawan penjajahan: ketulusan hati (nir-ambisi), penguasaan strategi, dan keandalan fisik. Kriteria ini mengalahkan syarat lain yang biasanya dimiliki elite status-quo, yakni senioritas dan kelebihan fasilitas. Sejarah kemerdekaan Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia membuktikan para pemimpin perjuangan mayoritas berusia muda. Tanda kepemimpinan Thalut kemudian diperkuat oleh penemuan kembali “Tabut” (warisan sejarah perjuangan Musa dan Ya’kub) yang lama hilang. Syarat senioritas sebenarnya cukup penting, karena mereka jelas memahami elan perjuangan masa lalu, tetapi harus dibuktikan efektif untuk membawa perubahan. Sebab, jika para elite itu benar-benar merasa paling mampu memimpin, maka mereka tidak akan meminta fatwa Samuel untuk diberi otoritas baru. Mereka bisa langsung berinisiatif melawan kezaliman dan membawa perubahan yang diinginkan seluruh rakyat Bani Israel. Tak akan ada seorangpun yang menghalangi, bahkan seluruh rakyat akan mendukung aksi kepahlawanan itu.

Kenyataannya, para elite pengecut itu hanya ingin mendapat restu/kartu politik sebagai batu loncatan (step to) untuk kekuasaan lebih tinggi, lalu rakyat dan kaum prajurit akan dikorbankan di medan tempur, sementara mereka sendiri cari tempat yang aman (safety player). Politisasi dan manipulasi isu perjuangan semacam itulah yang kadang tidak dipahami rakyat kebanyakan. Samuel menyadarinya dan ingin menghentikan manuver elite dengan menunjuk Thalut – “nobody” yang akan menjadi “somebody” pengubah sejarah Bani Israel.

Dalam rangka menjalankan tugas kepemimpinan baru, Thalut melatih kedisiplinan dan membangun semangat kebersamaan (esprit de corps) di kalangan prajuritnya demi menghadapi pasukan Jalut (Goliath) yang lebih kuat dan bersenjata lengkap (well-armoured). Salah satu tes kecil yang dilalui Thalut bersama prajuritnya adalah menyeberangi sebuah sungai. “Barangsiapa meminum air itu (sampai puas), maka dia bukan pengikutku. Dan, barangsiapa yang tidak meminum air sungai itu, kecuali seteguk saja (untuk menghilangkan rasa haus), maka dia pengikutku,” ujar Thalut. Ternyata yang lolos ujian itu hanya sebagian kecil prajurit, sedangkan mayoritas lain minum sepuas-puasnya, bahkan mandi basah sekalian. Di tengah perjuangan yang penuh resiko memang banyak orang tergelincir karena pragmatisme sesaat. Akhirnya, mayoritas prajurit Thalut tak sanggup melawan pasukan Jalut yang lebih kuat.

Maka, terjadilah moment of truth, saat sekelompok kecil pasukan Thalut yang loyal dan bersenjata seadanya tapi memiliki semangat membara berhadapan dengan dengan pasukan Jalut yang bersenjata lengkap. Ini kisah pertempuran yang tidak seimbang (asymmetric war), tapi hasilnya ternyata membalikkan sejarah. Kitab suci mencatatnya dengan kalimat sederhana: “How often, by Allah’s will, has a small force vanquished a big one? Allah is with those steadfastly preserve” (surat al-Baqarah, ayat 249). Kemenangan kelompok kecil yang solid melawan kekuatan besar dijadikan prinsip perubahan oleh Arnold J. Toynbee, yang terkenal dengan teori “creative minority” sebagai cikal-bakal peradaban baru (Study of History, Vol. IV, 1939).

Kunci kemenangan pasukan Thalut berada di tangan Daud yang -sebagaimana komandannya- tidak populer sama sekali sebelumnya. Garis keturunan Daud bukan murni Israel, karena nenek buyutnya, Ruth, berasal dari suku Moab yang mengungsi ke Bethlehem. Selain itu, Daud hanyalah pemuda tanggung yang pergi bertempur dengan peralatan sederhana (arek Suroboyo bilang: bonek alias bondho nekad). Thalut berkenan meminjamkan baju besi dan pedangnya kepada Daud, tapi sang pemuda pemberani itu lebih mengandalkan ketapel yang fleksibel.

Daud secara khusus mengincar Jalut, komandan pasukan musuh. Dalam strategi militer dikenal prinsip “centre of gravity” (titik kekuatan/kelemahan atau pusat keseimbangan) sebuah pasukan. Siapapun yang ingin memenangkan sebuah pertempuran harus menghancurkan pusat kekuatan musuhnya. Daud mengetahui, inti kekuatan musuh terletak pada peran sentral Jalut, dan inti keseimbangan Jalut pada bagian mata dan kepalanya. Penentuan strategi semacam itu terlihat mudah, dan semua orang mungkin merasa dapat melakukan hal yang sama.

Ahli strategi perang modern dari Jerman, Carl von Clausewitz, menegaskan: “Everything in strategy is very simple (to formulate), but that does not mean everything is very easy (to implement)” (On War, edited by Michael Howard and Peter Paret, 1984). Elemen yang harus dipertimbangkan dalam sebuah strategi biasanya meliputi: moral (kualitas intelektual dan psikologis prajurit), physical (besar-kecilnya pasukan), mathematical (kalkulasi saat melakukan operasi), geographical (kondisi medan tempur dan lingkungan), dan statistical (logistik dan persenjataan). Kecerdasan Daud menangkap semua elemen itu dengan cepat dan merupakan karakter orisinal yang akan mengantarkannya pada suksesi kepemimpinan menggantikan Thalut.

Daud memiliki segala kriteria yang disandang Thalut, yakni ketulusan motif, kebugaran fisik dan penguasaan strategi. Tapi, al-Qur’an menyebutkan tambahan kriteria yang membuat Daud sebagai pewaris kepemimpinan yang lebih besar (greater leadership): “Kemudian Allah memberinya kerajaan (al-Mulk) dan kearifan (al-Hikmah), serta mengajarinya segala yang Dia kehendaki” (al-Baqarah: 251). Kekuasaan yang dikonsolidasikan Daud lebih luas dari wilayah yang berhasil dibebaskan Thalut, karena itu kemampuan dan kecakapan manajerial yang diperlukan juga lebih berat. Kearifan dan kebijaksanaan sangat dibutuhkan untuk mempersatukan wilayah Israel yang cerai-berai. Kerajaan Israel saat itu terbelah menjadi 12 wilayah yang mewakili klan keturunan Ya’qub. Mereka saling bermusuhan, sehingga membutuhkan figur yang bertindak sebagai pemersatu (solidarity maker) dan juru damai (peace maker).

Daud memahami bahwa keberanian dan keperkasaan fisik semata tak cukup untuk membangun kerajaan besar (great kingdom) dari puing-puing kehancuran komunitas. Ia tak ingin meniru kesalahan Musa yang pernah bersikap arogan dan mengandalkan kekuatan fisik semata, padahal mental masyarakat tak siap untuk bersatu membangun peradaban baru. Disamping ilmu perang dan komunikasi sosial, Daud juga mengembangkan pengetahuan baru (new knowledge) sebagai basis peradaban maju, yakni teknologi peleburan besi (surat Saba, ayat 10-11). Teknologi baru itu tak hanya memacu fasilitas hidup bangsa Israel, tapi juga memberi proteksi dari serangan musuh.(bersambung)

Sapto Waluyo
HIPMI Excellencia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: