Thalut, Daud, dan Sulaiman: Transformasi Kepemimpinan Sesuai Tantangan Zaman (bag.I) by Sapto Waluyo

Di waktu kecil kita sering membaca kisah Nabi yang agung seperti Daud (David) dan Sulaiman (Solomon). Keduanya dikenal sebagai Nabi yang Meraja (Tsaric Prophet) dan Raja yang berwatak Kenabian (Prophetic King). Dua karakter yang dipandang berlawanan – Kekuasaan (power) dan Kearifan (wisdom) – telah menyatu dalam diri ayah dan anak itu. Namun, imaji kita tentang keduanya banyak yang bengkok dan perlu diluruskan. Perlu metoda “pembacaan” yang lebih dewasa tentang kisah para Nabi (prophetic parables), terutama dari sudut pandang pengembangan nilai-nilai kepemimpinan (leadership values).

Misalnya, Daud dicitrakan sebagai Nabi yang sangat perkasa, dapat mengalahkan lawannya Jalut (Goliath) hanya dengan senjata ketapel. Daud juga digambarkan sebagai Nabi yang menguasai kerajaan besar, bahkan bisa dikatakan sebagai pendiri (founding father) Kerajaan Israel Raya. Jika Ya’qub (dijuluki juga Israel) adalah bapak moyang kaum Yahudi dan Musa (Moses) menjadi penyelamat kaum Yahudi dari kebinasaan, maka Daud ditabalkan sebagai simbol kebesaran bangsa Yahudi. Keperkasaan Daud sering dikaburkan dengan sikap kejam dan sewenang-wenang, misalnya, ia dikisahkan suka membunuh tawanan perang yang ditaklukkannya (Will Durant, History of Civilization, Vol. 2, 1939). Ini pandangan yang keliru.

Karena, Daud diakui sebagai Raja yang sangat peka perasaannya, dan berbakat alami sebagai penyair sekaligus pemusik. Kitab Zabur (Mazmur) yang diturunkan Allah kepadanya tak lain adalah untaian doa dan petunjuk hidup dalam format syair nan indah-merdu, bila disenandungkan. Dapatkah kita membayangkan seorang penguasa yang amat peka hatinya, mudah tersentuh bila menyaksikan penderitaan sesama, tiba-tiba berubah wajah menjadi pembunuh berdarah dingin? Mungkinkah seorang tiran berhati bengis mampu mempersatukan sejumlah kerajaan yang saling bertikai satu sama lain, bahkan akhirnya mendapat pengakuan dan legitimasi kolektif dari para penguasa wilayah di sekelilingnya? Imaji buruk tentang Daud akan sirna, bila kita menelusuri rekam jejaknya saat menapaki jenjang kekuasaan dan prestasinya dalam mengelola kerajaan yang besar.

Begitu pula dengan Sulaiman, citra yang lebih buram sering disandarkan kepadanya. Ia dikenang sebagian orang awam sebagai Raja yang bergelimang kemewahan, bahkan disebutkan memiliki ratusan gundik dan menetapkan pajak yang berat kepada rakyatnya demi mengongkosi kesenangan pribadi (Gustav Le Bon, The Jewish People in Early History of Civilization, 1884). Semua itu jauh dari kenyataan, bila kita gali akar kearifan Sulaiman.

Kearifan dan Ketegasan

Karakter Daud dan Sulaiman dapat kita cermati dari dua peristiwa. Kisah pertama bermula, ketika dua orang perempuan datang mengadukan perkaranya kepada Daud. Masing-masing memiliki bayi mungil yang mirip betul bak pinang dibelah dua. Saat sedang istirahat, seekor serigala telah membawa salah seorang bayi tanpa sepengetahuan ibunya. Kedua perempuan itu bertengkar, bayi siapa yang telah dilarikan serigala dan bayi siapa pula yang selamat. Karena tak ada yang mengalah, maka mereka mengadu kepada Raja Daud. Setelah mendengarkan dan mempertimbangkan pengaduan kedua pihak, Daud memenangkan perempuan yang lebih tua dan memberikan bayi yang selamat kepadanya.

Perempuan muda tak puas, ia melaporkan kembali perkaranya kepada Sulaiman, yang berposisi putera mahkota. Atas izin ayahnya, Sulaiman memanggil kedua perempuan itu dan mendengarkan ulang pengaduan mereka. Sambil berpikir keras, Sulaiman meminta diambilkan sebilah pedang tajam dan menyuruh kedua perempuan itu untuk menaruh bayi di lantai. Dengan suara yang tegas agar terdengar oleh kedua perempuan itu, Sulaiman berkata: “Baiklah, karena tidak ada seorang pun yang mau mengalah di antara kalian, maka aku akan potong bayi ini menjadi dua bagian sama rata. Lalu, masing-masing kalian akan mendapat satu bagian yang diinginkan.”

Perempuan yang lebih tua tercenung, tapi tak bereaksi apapun. Perempuan yang lebih muda menangis sedih dan meminta Sulaiman agar menghentikan tindakan itu, ia rela menyerahkan sang bayi kepada kawannya yang lebih tua, asal bisa tetap hidup. Sulaiman tersenyum dan menetapkan amar putusannya: “Perempuan muda ini lebih berhak atas bayi itu, karena tak seorang pun ibu rela menyaksikan pembunuhan anaknya sendiri”. Daud kagum dengan kecerdasan Sulaiman, tak terbayangkan sebelumnya bahwa putusan yang tepat dan adil itu sesungguhnya harus melalui tahap pembuktian (testify). Daud hanya mengandalkan kepekaan nurani (instinct) bahwa perempuan tua lebih jujur, tapi ternyata keliru.

Ada lagi kisah yang mengungkapkan kecerdasan Sulaiman yang berujung pada kearifan. Kali ini dua orang pekebun datang mengadu kepada Daud yang didampingi Sulaiman. Pemilik kebun melaporkan bahwa kambing milik kawannya telah memasuki kebun yang siap dipanen buahnya, sehingga menimbulkan kerusakan dan kerugian besar. Pemilik kambing mengakui insiden itu, tapi menyatakan tak ada maksud untuk membiarkan kambing berkeliaran, apalagi kesengajaan untuk merusak panen kawannya. Ia siap menerima sanski apa saja. Setelah mendengarkan laporan kedua orang itu, Daud memutuskan agar kambing tersebut diserahkan kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi panen yang gagal.

Namun, Sulaiman meminta izin ayahnya untuk memberi pandangan lain. Daud mempersilakan, dan inilah saran Sulaiman yang mencapai kearifan di usianya yang masih muda: “Hendaklah kambing itu diserahkan kepada pemilik kebun selama setahun untuk diambil susu, bulu dan anak-anaknya, jika melahirkan. Sementara si empunya kambing menanam kembali kebun yang dirusak. Sesudah genap satu tahun, maka kambing harus dikembalikan kepada pemiliknya dan kebun yang siap panen pun diserahkan kepada si empunya.” Daud akhirnya menyetujui putusan Sulaiman yang menenteramkan kedua pihak.

Dua kasus itu menunjukkan kecerdasan dan ketegasan – yang berbuah keadilan – pada diri Sulaiman dalam mengambil putusan (decision making process). Pada kasus pertama, keadilan sejati berbasis pada naluri dasar manusia (fundamental or natural justice), sehingga setiap orang bisa mengukur secara spontan hak siapa yang dilanggar dalam sembarang konflik, jika berdialog jujur dengan hati nurani terdalam. Dalam terminologi hukum, keadilan fundamental itu menunjukkan konsensus masyarakat yang amat penting (significant societal consensus) sebagai landasan bagi penerapan sistem hukum agar berlangsung adil dan jujur (Thomas J. Singleton, 1995). Kebanyakan konflik di suatu organisasi (semacam HIPMI dll) atau masyarakat luas tidak selesai, karena setiap pihak yang berselisih lebih mempertahankan ego dan kepentingan sempit, meskipun hal itu sering membuka aib diri sendiri yang dikuasai keserakahan dan kekeraskepalaan.

Sementara itu, pada kasus kedua, Sulaiman menerapkan keadilan yang terukur (measurable or instrumental justice), sebuah konsep dalam studi ekonomi-sosial yang membuktikan bahwa penerapan etik dan metoda instrumentalis sejalan dengan perumusan cara dan pencapaian tujuan (Steven R. Hickerson, 1986). Orientasi pada tujuan (win-win solution) akan membuka peluang penyelesaian masalah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Konflik tak berujung (never ending conflict) akibat setiap pihak yang bertikai mematok tujuan yang sempit (zero sum game), dan tidak menyadari bahwa semua pihak bisa mencapai tujuannya, bila melakukan redefinisi kepentingan yang lebih luas. Untuk sampai pada putusan yang tepat dan diterima semua pihak, Sulaiman telah menerapkan berbagai eksperimen yang tak dapat dicerna secara linear, tapi sesungguhnya menyentuh kepentingan universal yang paling sublim.

Tindakan-tindakan hukum (dari kacamata seorang penguasa) atau putusan-putusan manajerial (dari sudut pandang CEO) yang sesuai dengan rasa keadilan umum (fairness) memperlihatkan kualitas kearifan dan pengetahuan sang pengambil putusan (decision makers). Kebijakan Daud dan Sulaiman telah dipaparkan dalam kitab suci al-Qur’an (surat al-Anbiyaa, ayat 78-79) yang menegaskan perlunya pemahaman yang jelas terhadap suatu masalah (right understanding) dilengkapi kedalaman analisis (judgment) dan keluasan pengetahuan (knowledge). Itulah syarat yang tak bisa ditawar bagi seorang pemimpin yang dihadapkan dengan beragam persoalan pelik.(bersambung)

Sapto Waluyo
HIPMI Excellencia

One Response to “Thalut, Daud, dan Sulaiman: Transformasi Kepemimpinan Sesuai Tantangan Zaman (bag.I) by Sapto Waluyo”

  1. kroyes Says:

    daud ketapel kecil, jalut binasa besar …
    fyuhhh ‘dongeng’ yang indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: