Belajar Teori Ilmu Komunikasi Dengan Tuhan(1)

Apa itu belajar?

Belajar adalah suatu aktivitas seorang manusia yang meliputi proses mengamati(melihat,mendengar)suatu objek, yang menghasilkan masukan citra kedalam otak manusia yang kemudian menjadi sebuah data, baik secara langsung yang bisa dituangkan dalam bentuk real maupun objek dalam bentuk pemahaman(teori).

Belajar secara bahasa adalah kata kerja aktif yang menyatakan bentuk suatu kegiatan.

belajar secara ilmiah memiliki beberapa criteria yaitu :

  1. Adanya proses interaksi antara obyek dan subyek
  2. Adanya hasil dari proses interaksi.

  1. Adanya proses interaksi antara obyek dan subyek :

Seseorang bisa dikatakan belajar jika sudah memenuhi criteria ini yaitu proses interaksi antara obyek dan subyek. Hal ini merupakan keharusan karena manusia sebagai subyek aktif hanya bisa memperoleh suatu citra kedalam otaknya apabila secara aktivitas telah berhubungan dengan obyek. Analoginya manusia belajar melihat pertama kali ketika bola mata telah berinteraksi dengan cahaya yang dipantulkan oleh benda. Merasa panas ketika bersentuhan dengan api dan sebagainya. Dikatakan subyek aktif saja yang bisa belajar, karena segala sesuatu yang dilihat oleh mata hanya disimpan apabila subyek focus untuk mengamati sebuah obyek sehingga interaksi bisa diteruskan keotak dalam bentuk data. Subyek yang pasif yang tidak mau membuka matanya tidak akan pernah menemukan interaksi dengan sebuah obyek dalam hal mengenali identitas obyek menggunakan mata.

  1. Adanya hasil dari proses interaksi

Seseorang bisa dan hanya boleh dikatakan sudah belajar dengan baik apabila ada hasil yang ia dapatkan dari proses interaksinya dengan obyek. Jikalau seseorang belajar namun dia tidak dapat menyimpan sebuah data dari hasil proses interaksi didalam otaknya, maka orang itu hanya bisa disebut baru mengamati.

Teori


Orang-orang yang aktif dan sabar dalam belajar akan menghasilkan sesuatu data yang benar-benar luar biasa yang mungkin belum pernah mereka bayangkan. Data-data hasil dari proses interaksi antara mereka dengan sebuah obyek ini akan merujuk kepada sebuah tatanan baku yang biasa disebut teori. Teori-teori adalah sebuah telaah yang disampaikan oleh seseorang yang telah mempelajari sesuatu data dari proses interaksinya dengan sebuah obyek.

Sebuah teori saya sebut sebagai hukum ilmiah yang menjelaskan suatu proses yang akan menghasilkan sesuatu apabila sebuah subyek berinteraksi secara aktif dengan obyek.

Dan saya akan mengatakan kepada anda bahwa sebuah teori yang dinyatakan oleh seseorang hanya bisa dikatakan benar apabila hukum ilmiah yang menjelaskan hasil dari proses interaksi antara subyek dan obyek itu apabila dilaksanakan secara sempurna dalam bentuk aktivitas akan sama atau sesuai dengan apa yang dijelaskan. Analoginya sebuah teori gravitasi (Isaac Newton) yang menyatakan bahwa segala sesuatu obyek yang dilemparkan keatas akan jatuh kebawah karena gaya tarik bumi, itu benar. Karena apabila dilaksanakan secara aktivitas terbukti sama atau sesuai dengan yang dia katakan.

Contoh lain adalah teori memasak, ada resep, ada bahan makanan, ada peralatan, ada proses dan ada hasil. Dalam teori ini terdapat beberapa obyek yang apabila salah satunya dihilangkan atau dilaksanakan tidak sesuai dengan tatanan/aturan dari teori memasak maka seseorang tidak akan pernah bisa menghasilkan masakan yang sama sesuai dengan yang dijelaskan dalam teori memasak tersebut. Artinya teori berbanding lurus dengan fakta yang dijelaskan dalam teori. Dan ini adalah hukum dasar dari segala teori yang menyatakan bisa atau tidaknya suatu teori dikatakan benar. Begitu pula teori beribadah, ada aturan, ada kegiatan dan ada hasil. Maka dari hal seperti ini kita baru bisa melihat apakah kita sudah memakai teori beribadah yang benar diukur dari hasil yang dijelaskan dalam teori tersebut. Jika dalam Al-Quran dikatakan sebuah teori shalat mencegah keji dan munkar maka seharusnya jika seseorang benar shalatnya kondisi keji dan munkar tidak pernah akan terjadi.

Apa itu ilmu?


Semua orang hampir dan mungkin sering sekali menggunakan kata “ilmu” namun apakah anda sudah memahami benar apa itu definisi dari “ilmu”. Ilmu adalah sebuah konsep yang mencakup tentang dasar-dasar dalam beraktivitas. Ilmu adalah teori yang benar dan teruji, namun teori belum tentu teruji kebenarannya. Atau dengan kata lain tidak semua orang yang mengungkapkan sebuah teori sudah dibuktikan kebenaran teorinya.

Ilmu adalah bentuk dari hukum yang berlangsung dikehidupan alam semesta dan alam manusia. Hukum yang berlangsung tidak pernah berubah. Beberapa obyek memang terkadang bisa saja tidak berjalan sesuai hukum itu namun bukan tidak ada sebabnya. Sebab utama dari tidak berjalannya obyek sesuai dengan hukum yang berlaku adalah adanya ketidakseimbangan, atau saya lebih senang mendefinisikannya sebagai ketidaksesuaian aktivitas obyek dengan fungsi awal ketika suatu obyek diciptakan(basic default function creation). Dalam Al-Quran dikatakan sebagai ketidaksesuaian dengan fitrahnya. Contoh dari hal ini adalah ilmu tentang musim hujan kaitannya dengan banjir. Yang terlintas adalah kenapa bisa terjadi banjir? Hal ini jelas sekali terlihat disebabkan oleh tidak adanya wilayah hutan. Dan kebanyakan ternyata telah beralih fungsi dari sebelumnya resapan air menjadi wilayah pemukiman, ladang atau sebagainya. Jelas, bukan masalah bertambahnya debit air, tetapi karena adanya alih fungsi pada suatu obyek yang mengganggu keseimbangan interaksi obyek. Karena memang dunia ini ditopang oleh sebuah hukum kesetimbangan. Dimana ada naiknya volume air didarat maka bisa dipastikan adanya dasar laut yang naik disuatu tempat, atau bisa juga telah terjadi gangguan siklus air akibat rusaknya daerah resapan air. Ingat saya akan mengatakan bahwa dunia ini adalah tersusun dari rantai obyek yang memberlakukan hukum kesetimbangan dengan rantai obyek yang lain, dimana apabila telah terjadi kerusakan pada rantai obyek yang satu maka rantai obyek yang lainpun akan mengalami pengaruhnya. Hal ini persis seperti neraca gantung, dimana apabila dua buah benda yang telah teratur keseimbangannya tiba-tiba dipindahkan sedikit bebannya ketempat benda yang lain pada neraca gantung. Dalam kenyataan bisa kita lihat, ternyata ada daerah-daerah yang semula cukup air tiba-tiba menjadi kekurangan air, dan pada daerah yang kekurangan air tiba-tiba menjadi banjir. Inilah hukum yang sedang terjadi di alam. Inilah kenyataan. Inilah ilmu yang paling sering diabaikan oleh manusia. Dan inilah yang terjadi apabila manusia dalam beraktivitas tidak berdasarkan ilmu yang benar. Dan tentunya hal ini pernah diperingatkan oleh Allah lewat Al-Quran dalam surat Al-Isra 17: ayat 36, yang bunyinya, “Janganlah kamu mengikuti suatu perkara(kegiatan,masalah,aktivitas)tanpa dasar ilmu, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan fuada kamu akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Peringatan Allah sangat jelas, bahwasanya kamu(manusia) jangan(dilarang)mengikuti suatu perkara(kegiatan, masalah, aktivitas) tanpa dasar ilmu(teori yang benar).

Fakta telah dibuktikan ternyata dunia hancur/rusak karena orang-orang bodoh yang tidak mengenal Allah. Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan ayat-ayat Allah. Orang-orang yang selalu membaca Kitab dalam bahasa arab namun terjemaahnya mereka tidak pedulikan, ibarat memakan kulit buah lalu buahnya sendiri dibiarkan(tidak diacuhkan, QS Al-Furqan:30) sehingga membusuk dan laparlah orang yang memakan kulitnya. Allah adalah sosok yang Esa yang satu-satunya mampu menyandang gelar sang Maha Pandai dimana tidak ada satupun obyek dan subyek walaupun itu hanya sejumput proses yang terjadi yang mampu keluar dari ilmu-ilmu yang Dia miliki. Teori yang pernah Dia sampaikan selalu sesuai dengan fakta yang terjadi. Boleh saja manusia atau orang-orang diseluruh penjuru dunia mulai meragukan-Nya atau bahkan ingkar terhadap keberadaaan-Nya, tetapi teori-teori Allah akan tetap berjalan tanpa dipengaruhi sedikitpun oleh intensitas dari kepercayaan manusia terhadap Allah. Hal ini sudah banyak sekali dibuktikan dan ditemukan kebenarannya dalam sejarah manusia. Kita lihat saja mulai dari zaman yang terdekat dengan manusia saat ini. Allah memiliki ilmu bagi manusia dalam menjalani kehidupan mereka didunia. Dikatakan basic dari manusia diciptakan adalah untuk beribadah menyembah dan patuh hanya kepada Allah. Ilmu ini sama halnya dengan teori sebagai berikut “sebuah computer dibuat untuk menjalankan sebuah program dimana computer itu bisa saja mengolah program yang baik sehingga menghasilkan output yang bermanfaat dan bisa mejaga kondisi fisik dari computer tersebut, namun bisa saja sebuah computer menjalankan sebuah program yang tidak baik yang bisa menghasilkan output yang merugikan dan bisa menyebabkan kerusakan terhadap kondisi fisik computer tersebut”. Begitulah sama halnya dengan manusia, dia adalah subyek yang sama dengan computer yang dia bisa mengerjakan berbagai macam program(aktivitas, kegiatan, pekerjaan). Apabila manusia dalam hidupnya menjalankan program yang baik sesuai dengan ilmu Allah sudah pasti dia akan menghasilkan output yang bermanfaat dan bisa menjaga kondisi dirinya secara keseluruhan dengan baik. Namun apabila manusia ini menjalankan program yang tidak baik atau tidak sesuai dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah maka diapun pasti akan menghasilkan output yang tidak baik dan sudah dipastikan tidak akan menghasilkan manfaat apapun bahkan bisa mendatangkan akibat buruk yang terjadi pada kehidupan manusia yang menjalankannya. Intinya yang bisa kita pelajari adalah, computer hanya melaksanakan perintah untuk menjalankan program tergantung dari apa yang dipilih untuk dikerjakan pemakainya(user) apakah itu berupa program yang baik atau program yang bisa merusak computer itu sendiri, namun manusia itu adalah sebuah computer hidup yang dia mampu untuk memilih menggunakan akalnya untuk mengerjakan program yang baik atau program yang tidak baik secara independent(bebas). Bebas disini adalah hak untuk mendapatkan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Karena itulah segala sesuatu akan kembali kepada apa yang dipikirkan oleh manusia itu sendiri. Apakah dia dalam otaknya memiliki standar “terbaik” yang benar menurut ilmu atau teori yang benar. Karena yang “terbaik” menurut teori yang benar adalah terbaik menurut apa yang terkandung dalam ilmu Allah. Manusia bisa menjadi seorang yang individualistic, materialistic, hedonis, kriminalistic, atau menjadi seseorang yang berbudi pekerti luhur yang mampu memikirkan kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain dengan baik, bergaya hidup sederhana dan wajar, serta jujur dan adil. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam salah satu kitabnya (kitab-kitab Allah = Taurat, Injil, Al-Quran) yaitu Al-quran surat 90 ayat 10 yang bunyinya sebagai berikut :

“dan telah Ku-tunjukan kepadamu(manusia) dua jalan”.

Pada firman Allah diatas diterangkan bahwasanya dalam hidupnya manusia selalu memiliki dua pilihan. Yaitu jalan yang benar atau jalan yang salah.

Hal yang perlu kita sadari juga yang sering menyebabkan banyak manusia terjerumus dalam tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat adalah karena suatu hal yang sering dilakukan oleh manusia yaitu dia malas menggunakan akalnya, dia tidak mengetahui bahwasanya Allah-pun murka terhadap orang yang tidak mau menggunakann akalnya yang diterangkan dalam surat 10 ayat 100, “karena sifat malas menggunakan dan mengasah akalnya dengan ilmu Allah inilah yang menyebabkan manusia cenderung mudah dipengaruhi oleh orang lain dengan doktrin yang kuat, atau bahkan manusia cenderung menjadi lebih bodoh dari seekor keledai yang selalu membawa buku-buku tebal. (*orang yang selalu membawa dan membaca buku tetapi dia tidak mengerti isinya). Konsekuensi dari tindakan yang selalu menjadikan orang lain sebagai panutan adalah ketika orang lain yang kita ikuti salah dan kita telah mengikutinya maka dia tidak akan pernah bisa menolong diri kita. Pertanyaanya adalah lalu kita harus bagaimana?

Perhatikan surat 6 ayat 116, “jikalau kamu mengikuti kebanyakan mereka dimuka bumi maka mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah, sesungguhnya mereka itu memakai prasangka dan mereka itu benar-benar orang yang berdusta.” Sudah menjadi sebuah kebiasaan yang sering dilakukan oleh manusia dari mereka mulai mengenal komunitas manusia yang lain maka dia akan memilih komunitas dengan jumlah pengikut yang banyak. Entah darimana penilaian mereka untuk menilai suatu kebenaran dengan berdasarkan “yang banyak pengikutnya biasanya yang benar, jadi saya ikut yang paling banyak saja”. Ini adalah sebuah ucapan yang sering saya dengar dan pernah saya ucapan sendiri sebelum saya paham ternyata komunitas yang besar(mayoritas) belum tentu benar menurut Allah. Bahkan diceritakan didalam kitab suci seringkali sesuatu yang benar diawali dari komunitas yang hanif(lurus tujuan hidupnya) dan dalam jumlah yang kecil. Dari cerita para nabi-nabi terdahulu seringkali diungkapkan tersirat dalam bahasanya bahwa ketika sebagian besar manusia mulai keluar dari jalurnya maka diutuslah mereka untuk memperkuat ayat diatas. Dimulai dengan jumlah yang sedikit(umat perintis) mereka mampu membuat perbaikan dimuka bumi dengan ilmu(teori yang benar) dari Allah. Hal ini terbukti bahwa ketika kejahatan sudah menjadi sesuatu yang wajar dan bahkan sudah tidak bisa mereka sadari maka kebenaran akan terlihat seperti sinar yang menyilaukan mata anda ketika anda tidur(risih). Pernahkah anda merasakannya? Bagaimana jika anda sedang terbuai dengan mimpi yang indah bergelimang kesenangan tetapi tiba-tiba ada seseorang yang tidak anda kenal membangunkan anda dengan cahaya yang menyilaukan dan mengganggu mimpi tidur 1000 tahun anda yang indah namun semu ? tentunya respon bagi setiap orang tidak sama. Bagi mereka yang tertidur tetapi mereka memikirkan Allah ketika berdiri, duduk maupun berbaring maka ketika dia tertidur lalu dibangunkan oleh orang yang tidak dikenalnya, didalam benaknya akan timbul pertanyaan siapa orang yang membangunkanku? Dimana aku tidur? Sudahkah aku beribadah kepada Allah?. Itulah pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak mereka yaitu instropeksi diri, lalu dia akan berterima kasih dan bersyukur seraya menyebut Nama Allah yang telah memberikan nikmat kepadanya sehingga dia bisa terbangun dari mimpi yang melalaikannya dari mengingat Allah. Namun bagi beberapa orang yang lain yang mereka mengenal Allah tetapi hanya dimulutnya saja dan tidak pernah memikirkan-Nya maka sudah dipastikan orang yang membangunkan dengan membawa pelita itu akan mengalami masalah dengan yang sedang dia bangunkan. Marah, dipukul atau mungkin sampai dibunuh. Karena bagi mereka yang dibuai mimpi terus menerus tanpa memikirkan Allah mereka tidak akan sanggup menerima kenyataan bahwa pikirannya dan mimpinya sendirilah yang telah menyesatkannya. Dan dia telah lupa bahwa dia sebelumnya bukan apa-apa dan tidak tahu apa-apa mengenai ilmu Allah. Lalu dia telah menganggap dirinya benar.

Itulah gambaran dari beberapa tanggapan manusia ketika dia dibangunkan dari mimpinya oleh orang asing dengan ilmu Allah. Maka beruntunglah bagi mereka yang mampu berinstropeksi diri, mampu melihat, mendengar, menerima dan memaafkan serta bersyukur kepada Allah tanpa melihat dari mana nikmat itu datang. Apakah dari kalangan yang dia kenal ataupun yang belum dia kenal. Dan bagi orang yang tidak mau mendengar seruan Allah untuk segera bangun dari mimpinya yang telah melupakan dia dari Allah maka dia akan menemukan kerugian yang sangat besar dan matanya akan terbelalak ketika dia bangun nanti dan dia menemukan dirinya telah tua dan terserak dijalan Allah. Baginya tidak ada kesempatan untuk mengulang kecuali Allah memaafkannya dan menjadikannya sebuah pelajaran baginya.

Cerita diatas merupakan proyeksi dari tingkah hidup kebanyakan manusia dimuka bumi yang hidup tanpa dilandasi ilmu Allah, mereka selalu punya keinginan,mimpi dan cita-cita. Apakah hal ini bagus? Saya akan menjawab ini sangat bagus, manusia harus punya keinginan, mimpi dan cita-cita yang harus dia wujudkan dengan usaha yang keras dan sabar. Kenapa? Karena baginda Rosululloh-pun dia memiliki keinginan, mimpi dan cita-cita yang sekarang bisa kita lihat bersama yaitu madinatul munawaroh demi beribadah menegakkan dien Allah menjadikan islam sebagai rahmatan lil alamin. Masalahnya adalah kita harus memahami dengan hal yang pernah saya dengar dan yang akan saya sampaikan kembali kepada anda hari ini yaitu, “anda harus membatasi pemahaman diri anda sendiri dari pemahaman yang tidak baik namun anda tidak boleh membatasi kebenaran dengan pemahaman yang anda miliki, lihatlah benar dan lihatlah salah, tetapi sekali-kali anda tidak akan bisa melihatnya dengan mata anda, tetapi lihatlah dengan ilmu Allah. Sesungguhnya baik menurut anda belum tentu benar menurut Allah dan sesungguhnya buruk untuk anda belum tentu salah menurut Allah. Dan anda harus berhenti mengadili orang lain sebelum anda terbebas dari dosa dan kesalahan anda sendiri. Adililah anda terlebih dahulu dan datangkanlah saksi untuk melihat jika anda adalah orang yang benar. Atau mintalah segera kematian jika anda pernah menerima janji atau jaminan bahwa anda adalah orang yang paling benar dan surga itu adalah milik anda. Jika anda tidak pernah mendapatkan janji itu dari Allah maka sungguh saya, anda dan orang-orang lain didunia ini akan diadili sendiri oleh Allah, maka janganlah anda saling menghakimi tanpa ilmu dan instropeksi. Berlakulah seakan Allah sedang mengikuti anda kemanapun anda pergi.”

Komunikasi.

Apa itu komunikasi?

Komunikasi adalah hubungan atau interaksi antara sebuah subyek dengan subyek/obyek yang sudah saling mengenal. Dikatakan hanya yang sudah saling mengenal saja karena bagaimana mungkin seseorang bisa dikatakan telah berkomunikasi dengan Pak Ahmad bila dia tidak tahu siapa pak Ahmad yang hendak ia tuju untuk berkomunikasi. Boleh jadi ada 1000 orang bernama Ahmad didunia ini, manakah yang telah dia maksud bernama Ahmad? Mengenal yang saya maksudkan tidak selalu dibatasi masalah berkenalan secara fisik, namun berkenalan secara identik/karakteristik, yaitu mengenal seseorang secara keseluruhan karakteristik yang menjadi ciri khusus atau identity dari seseorang. Boleh jadi dari sesuatu yang pernah dia katakan, dia tunjukan atau dia tuliskan dalam sebuah buku. Contoh mudah yaitu, anda sedang mengenal saya dari sebuah tulisan yang anda baca sekarang. Seseorang mengenal pohon dari buahnya. Untuk bisa dikatakan anda telah mengenal saya maka minim anda ingat kepada apa yang saya tuliskan, karena anda belum pernah melihat saya. Namun komunikasi antara kita masih bisa berlangsung. Begitupula berkomunikasi dengan Allah yang belum pernah anda lihat secara fisik. Tanyakanlah sendiri kepada anda apa dasar anda bisa mengatakan anda telah mengenal Allah? Apakah Allah pernah turun kebumi dan anda melihatnya begitu tampan atau begitu cantik? Atau anda pernah mendengarkan Perkataan Allah yang Bijak dan merdu? Maha Suci Allah yang berbeda dari semua makhluknya. Dari hal kecil ini muncul pertanyaan yang begitu besar, “Darimana asalnya, bagaimana ceritanya, dan kenapa saya bisa mengatakan Pada hari ini saya telah mengenal Allah yang telah menciptakan saya padahal saya belum pernah melihat wajah-Nya dan mendengar suara-Nya?”. Sungguh sesuatu yang menyedihkan memang, telah hidup begitu banyak manusia dan tidak sedikit dari mereka yang selalu mendatangi tempat peribadatan namun dia tidak mengenal Allah secara benar. Mereka menciptakan gambaran Allah sendiri-sendiri ketika mereka beribadah. Ketika mereka memejamkan mata mereka mencoba membayangkan dirinya bisa melihat cahaya putih atau apapun yang mereka bayangkan, mereka menangis meminta diampuni dosanya, lalu mereka pikir bahwasanya mereka telah bisa melihat, mendengar dan mengingat Allah dalam peribadatannya lalu mereka merasa tenang, dan hasilnya dikemudian hari perbuatan dosa itu mereka ulang kembali. Bukankah Allah tidak bisa dijangkau oleh penglihatan? Apakah saya yang salah memahami ucapan para ulama? Atau sudah ada aturan baru yang memperbolehkan manusia untuk mengatakan “saya telah melihat Allah ketika mata saya terpejam sewaktu sembahyang”?. Sungguh hal yang saya pahami tentang mengenal Allah adalah ibarat anda sedang berkenalan dengan seorang penulis buku atau sutradara. Anda tidak pernah melihatnya tetapi anda bisa melihat tulisan Allah, perkataan, maupun sandiwara yang telah dia Film-kan didalam kehidupan manusia. Saya akan mengatakan kepada anda semuanya ”janganlah ada seorang manusia mengatakan telah mengenal Allah apabila dia tidak mau memahami ilmu Allah yang telah Dia Firmankan, telah tertulis maupun telah Dia Film-kan di kehidupan manusia sesungguhnya yang seperti itu adalah mengenal Allah dibibir saja dan bukan mengenal yang benar”. Marilah kita instropeksi kembali sejauh manakah diri kita telah mengenal Allah dari apa-apa yang telah Dia Firmankan, Dia Tuliskan dan Dia Film-kan untuk kita. Karena selama kita belum mengenal Allah maka kita tidak akan pernah bisa menjalin komunikasi dengan-Nya. Dan sudah dipastikan ibadah kita tidak akan pernah sampai kepada Allah yang kita maksud, tetapi hanya akan sampai pada Allah yang terbuat dari angan-angan manusia yang dikuasai hawa nafsu setan. Akan tetapi ini hanyalah berlaku bagi orang yang mau percaya saja, mau mendengar dan mau berfikir. Saya sedang tidak beradu teori dengan siapapun atau mencoba untuk tampil lebih pandai dari siapapun dalam hal mengenal Allah, tetapi saya sedang dalam proses menuliskan kembali yang saya pahami ketika saya mendengar Firman Allah, membacanya dan melihat Film yang telah Allah tunjukan bagi semua manusia. Janganlah kita melakukan kembali kesalahan-kesalahan orang-orang yang tedahulu. Bukankan pada hari ini sudah banyak bermunculan suatu peristiwa yang persis sama dengan apa yang pernah diceritakan di dalam Kitab-kitab Allah? Tentang bencana, dan azab yang persis sama telah terjadi pada masa lalu karena masalah yang sama. Tentang kaum yang melampaui batas dimana laki-laki memperistri laki-laki dan sebaliknya lalu mereka ditimpakan azab oleh Allah. Tentang penguasa yang dzolim dan para pengikutnya yang bodoh seperti fir’aun dan pengikutnya lalu ditenggelamkanlah mereka didalam laut. Kenapa kita tidak bersegera untuk memahami dan mengambil pelajaran dari hal tersebut. Sungguh anda yang mendengar apa yang saya tuliskan apabila itu suatu kebenaran maka bukanlah berasal dari saya, melainkan milik Allah. Tidaklah ada satupun titik yang ada dalam tulisan saya yang lepas dari kehendak Allah jika anda mengerti, karena tidak ada sesuatu apapun didunia ini yang terjadi karena proses kebetulan. Yang haq datangnya adalah atas kekuasaan Allah. Jikalau anda melihat kebodohan kaum ‘ad dan kaum tsamud yang melampaui batas dengan tingkah mereka yang menyukai sesama jenis padahal telah datang petunjuk yang jelas kepada mereka bahwa hal itu tidak benar dan peringatan akan azab Allah yang pedih. Kemudian habislah mereka oleh azab Allah karena mereka tidak mau mendengarkan petunjuknya. Maka anda bisa melihat dengan mata terbuka bahwa setiap kejadian yang dahulu pernah terjadi didunia ini kita bisa kembali melakukannya, mengulangnya bahkan persis sama namun berbeda latar waktu dan tempat. Bertanyalah! Apakah anda menemukan kembali kaum ‘Ad identik dengan kaum pada beberapa golongan manusia sekarang? Bahkan jika kita mau sama-sama membandingkan tingkat kejahatan maka anda akan menemukan peningkatan yang sangat mencengangkan baik secara quantity maupun qualitas. Tengoklah saudara kita yang kurang beruntung, dari mereka telah ada yang mengalami kejahatan sexualitas yang begitu keji yaitu, dilecehkan oleh anaknya sendiri, ayahnya sendiri, maupun seorang cucu melecehkan neneknya atau sebaliknya. Sadarkah hal ini sedang terjadi ditengah-tengah kita yang sedang sibuk memuji-muji nama Allah secara merdu. Disajikan dengan drama yang indah, pembangunan tempat peribadatan yang begitu banyak. Apa yang ada dalam benak anda melihat hal itu? Atau jangan-jangan anda baru terpikirkan mengenai hal ini? Atau anda ingin bersama-sama orang yang mengatakan”ini sudah takdir”?. Kalau memang takdir itu rahasia Allah kenapa kita bisa mengetahui hal yang seperti ini adalah termasuk takdir? Bukankah ini perbuatan dzolim terhadap sesama manusia? Tanyakanlah, adakah Allah pernah mendzolimi makhluknya? Sesungguhnya kitalah manusia yang selalu berbuat dzolim kepada Allah yang selalu berlindung kepada kata “ini sudah takdir” atas bencana, azab maupun hal negatif yang menimpa kita. Hidup manusia adalah sebuah mistery milik Allah, namun segala kejadian yang terjadi adalah cerminan dari segala aktivitasnya manusia itu sendiri. Ada sebab yang menjadi dasar pemicu dari sebuah akibat. Setiap kejadian pada sejarah manusia sebenarnya adalah teori Allah yang telah berlangsung, itu adalah teori yang benar, Dia adalah sang penulis kejadian dan Dia adalah sang Sutradara, manusia adalah pemeran dari setiap teori yang Dia miliki. Yang benar dan yang salah selalu memperoleh balasannya meskipun nilainya hanya setitik noktah. Ceritanya identik pada setiap zaman dan akan berlangsung sampai hari akhir bagi manusia. Namun untuk mampu melihat hal tersebut anda dan saya harus mampu menyamakan persepsi terlebih dahulu bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah milik Allah dan tidak ada satupun kejadian atau proses yang bisa terjadi secara kebetulan. Ini semua adalah sesuai dengan ilmu Allah yaitu teori yang benar dan sedang dan akan selalu dibuktikan oleh manusia dalam kehidupannya. Dan kita semua sekarang sedang dan akan menjadi orang yang mampu secara sadar melaksanakan ilmu-ilmu Allah tersebut. Teori tentang perilaku manusia dan hasil yang akan dicapai olehnya. Teori tentang kemudahan bagi manusia yang berjalan dengan ilmu Allah, teori akibat bagi manusia yang berjalan tanpa ilmu Allah, teori kelimpahan rizki bagi mereka yang mau berusaha dan bersyukur, teori tentang kemiskinan akibat manusia tidak mau berusaha, teori tentang manusia yang diazab oleh Allah atas perbuatan mereka dan teori-teori lain yang bisa anda baca didalam kitab-kitab Allah(Taurat, Injil, Al-Quran). Semua yang anda temukan dalam kitab akan anda temukan dalam kehidupan ini sekarang dan sedang dan akan terus berlangsung prosesnya sampai hari akhir. Bisa jadi anda akan melihat diri anda sedang menjadi tokoh yang sama persis(identik)dengan manusia pada zaman yang telah lalu. Anda bisa melihat kebaikan anda identik dengan kebaikan seorang raja, anda bisa melihat kepandaian anda identik dengan kepandaian seorang ilmuan, anda bisa melihat kekejaman anda identik dengan kekejaman seorang algojo, anda bisa melihat apapun sifat dan perilaku anda persis sama dengan manusia yang telah hidup zaman dahulu bahkan mungkin anda telah berhasil merangkapnya menjadi satu menjadi karakter anda sekarang. Mungkin anda tidak mengetahui siapa yang identik dengan karakter anda sekarang pada zaman dahulu. Tapi karakter anda sebenarnya telah berumur lebih panjang dari umur anda sekarang dan karakter anda adalah satu dari peninggalan sejarah yang tidak dapat dikalahkan umurnya. Percaya atau tidak karakter andapun akan tetap hidup dalam bentuk energi yang nantinya akan melewati sejarah masa yang akan datang yang anda tidak mampu melihatnya sekarang. Rasakanlah pada diri anda atas semua potensi yang anda miliki, kenalilah karakter anda dan saat inilah bagi anda untuk terhindar dari kesalahan yang sama atas kejadian yang pernah terjadi dahulu pada karakter yang telah hidup persis sama dengan anda. Karena itu sebelumnya ingatlah atas apa yang saya ucapkan pada hari ini, “berhati-hatilah dengan apa yang anda pikirkan karena apa yang anda pikirkan akan berubah menjadi perkataan, berhati-hatilah dengan apa yang anda katakan karena perkataan anda akan berubah menjadi sebuah perbuatan, berhati-hatilah dengan perbuatan anda karena perbuatan anda akan menjadi sebuah kebiasaan, berhati-hatilah dengan kebiasaan anda karena kebiasaan anda akan berubah menjadi sebuah karakteristik yang akan mempengaruhi tujuan anda hidup. Kenali diri anda terlebih dahulu supaya anda bisa mengenali Allah dan bisa berkomunikasi dengan-Nya.”

Komunikasi beraktivitas dalam ruang dan waktu, komunikasi beraktivitas didalam seluruh kehidupan alam semesta, alam manusia maupun alam semesta. Komunikasi dalam kehidupan alam semesta meliputi komunikasi antara makhluk-makluk Allah, baik hewani maupun tumbuhan.

Siapa itu tuhan?

Jika saya bertanya demikian pasti sebagian besar anda yang membacanya akan menjawab Tuhan adalah Yang menciptakan manusia dan alam semesta beserta isinya. Jawab yang demikian adalah jawaban yang rata-rata semua orang memahaminya dan itu adalah jawaban yang benar. Yaitu jawaban dari sudut pandang secara ilmiah(biologi,fisika,kimia,astronomi, dan lain sebagainya). Namun ternyata dalam wilayah kehidupan manusia secara real aktivitas social, ekonomi, hukum, politik, dan lain sebagainya, sebenarnya siapakah yang dimaksud dengan Tuhan itu?

Tuhan dalam wilayah kehidupan secara real aktivitas adalah Pengatur yang membuat aturan kehidupan, Penguasa yang memberlakukan aturan kehidupan, Tuan yang ditaati aturannya dalam kehidupan. Karena kita berbicara Tuhan dalam wilayah “aturan” maka dalam hidup ini terkadang ditemukan sebuah fakta bahwa manusia dalam kehidupannya mereka memiliki kemampuan membuat aturan, yang menguasai aturan itu, dan yang menaati aturan tersebut. Kemampuan ini adalah suatu potensi yang dimiliki oleh semua manusia yang berakal untuk mengelola kehidupan(peradaban) mereka sendiri. Namun jika hal ini tidak dibatasi maka manusia akan bisa melampaui batas dan akan menjadi tandingan bagi Tuhan sebagai Pengatur, Penguasa dan Tuan yang ditaati didalam kehidupan. Dimana Tuhan itu adalah Tuan bagi semua manusia, dan sudah pasti seorang hamba itu tidak boleh membuat aturan, kekuasaan dan ketaatan lain selama hamba itu masih ingin bertuan kepada Tuhan. Dan perlu kita sadari bahwa satu-satunya yang bisa kita lihat dan kita dengar dari Tuhan Yang Menciptakan kita adalah ilmu Tuhan sendiri. Dimana dalam islam kita mengenal Tuhan dengan sebutan Allah dalam bahasa arab. Jadi esensi/isi/arti kita mengabdi sebagai hamba Tuhan adalah kita harus selalu mengabdi kepada Aturan/hukum/ajaran/ilmu-Nya, tunduk pada Kekuasaan-Nya dan selalu Taat kepada-Nya. Dan tinggalkanlah tuhan-tuhan lain itu, yaitu aturan,kekuasaan dan ketaatan selain kepada aturan Allah.

Bagaimana cara belajar yang baik?

Tiap orang boleh saja memiliki cara belajar masing-masing untuk menjadi pandai, namun intinya adalah belajar yang baik itu belajar yang seperti apa?

Tujuan dari belajar yang baik itu adalah kita mengambil suatu kesimpulan dari setiap kejadian yang telah kita kerjakan apakah itu bernilai positif atau negatif sehingga kita memperoleh hasil yang sesuai dengan yang hendak dicapai dengan berbagai macam koreksi setiap kesalahan yang terjadi. Belajar yang baik itu melihat dan mendengar, memproses (dihitung,diukur,diraba), disimpulkan, lalu disimpan hasilnya didalam otak. Membaca dengan teliti dan memikirkannya. Dipraktekkan lalu mengevaluasi hasilnya apakah sudah sesuai dengan dasar teorinya. Belajar yang baik adalah belajar sesuai dengan ilmu, dengan usaha yang keras, ketelitian, ketekunan, hasil yang maksimal dan dengan sedikit sekali kesalahan. Dan sebaik-baik pelajaran itu adalah Ilmu Allah.

Bagaimana cara komunikasi yang benar?

Cara berkomunikasi yang benar adalah :

  1. Kenal

Yaitu tahapan mengetahui karakter, status lawan bicara kita. Untuk sampai kepada komunikasi yang baik maka wajib hukumnya seseorang mengetahui karakter dan status yang akan diajak berkomunikasi, karena hal ini berkaitan dengan hal tindakan apa yang harus kita siapkan untuk berkomunikasi. Misal lawan komunikasi kita adalah seorang yang pandai dan terhormat maka kitapun harus bisa lebih berpikir pandai dalam bersikap dan harus bisa memberikan penghormatan yang sesuai agar komunikasi bisa berjalan lancar.

  1. Paham bahasa penghubung

Yaitu tahapan mengetahui bagaimana berucap dan mendengar kepada lawan bicara pada perspektif bahasa dan simbolisasi yang sama sehingga memperoleh satu kesetujuan arah pembicaraan yang sama. Misal penggunaan bahasa inggris ketika berbicara dengan orang inggris dan penggunaan simbolisasi garpu dan sendok sebagai penggambaran rumah makan. Ketika seseorang yang hendak berkomunikasi ini sampai salah memakai bahasa atau salah mengartikan sebuah simbol yang dimaksudkan maka komunikasi tidak akan berjalan dua arah. Melainkan hanya satu arah saja, sehingga yang lain tidak saling mengerti.

Bagaimana mengenal Tuhan?

Ibarat seorang budak dengan Tuan-nya maka mengenal sang Tuan itu adalah hal pokok yang harus dimengerti oleh budak agar setiap pekerjaannya diterima oleh tuannya lalu dia bisa menerima upah yang pantas atas setiap pekerjaannya. Seorang budak yang tidak mengenal tuannya adalah seorang pengumpul gandum bisa saja membuang obor api kedalam gudang penyimpanan gandum tuannya sehingga terbakarlah sebagian gandum yang telah dikumpulkannya itu. Kemudian budak itu dia jatuhi hukuman berat. Atau ketika budak itu diperintahkan membawa air tawar karena tuannya menginginkannya namun budak itu malah membawakan air susu dimana sang tuan itu sedang tidak minum susu karena sakit gula. Apakah yang hendak tuannya lakukan kepada budaknya itu? Diberi upah atau diberi hukuman?

Mengenal Tuhan adalah kunci utama ibadah/amalan seseorang diterima dihadapan Tuhan. Jika kita mau mengabdi dengan benar maka kita harus mengenal Tuhan kita sebagai tuan yang kita abdi, jangan sampai kita membuatnya marah dengan melakukan hal yang tidak diperintahkan-Nya kepada kita. Karena itu kita harus mengenal-Nya dan memperlakukan-Nya secara baik dengan cara memahami ilmu yang telah diajarkannya kepada kita didalam kitab-kitab-Nya.

< to be continued>

 

2 Responses to “Belajar Teori Ilmu Komunikasi Dengan Tuhan(1)”

  1. hugsy Says:

    maaf, tulisan saya belum semua bisa saya post,

  2. donychandra Says:

    Subhanallah, membuka mata dan hati !
    Allahuakbar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: